google-site-verification: googlebab9ecc5533f66da.html

Selasa, 03 Desember 2019

Suamiku Selingkuh Ketika Aku Sedang Hamil

Wanitahebatmu - Menikah dengan lelaki yang dicintai dan walhasil hamil yaitu hal yang diharapkan oleh Norah (bukan nama sebetulnya). Namun, kondisi berubah ketika dia mendapati bahwa suaminya selingkuh ketika ia sedang hamil.

Dia tidak mengatakan pada orang tuanya mengapa ia bercerai. Melainkan, ia membagi kisah ketegarannya menghadapi masa kehamilan dengan suami yang selingkuh, dan masa kelahiran dikala ia menetapkan untuk menjadi ibu tunggal untuk si kecilnya.

Saya pernah punya pernikahan yang sempurna. Aku bersua Adam setelah seorang teman telah memperkenalkan kita, segalanya berjalan dengan gembira.

Kami pacaran selama 3 tahun sebelum kesudahannya menikah. Aku hamil pada tahun pertama pernikahan kami.
Dikala itulah ia mulai berperilaku. Rasanya situasi jadi berbalik secara drastis.

Adam mulai acap kali pulang larut malam dengan alasan semestinya membawa klien untuk minum-minum.

Alasan yang diberikannya terdengar seperti trik kuno untuk mengelabuhi pasangan. Tetapi saya masih mempercayainya. Sebab dia ialah... dia.

Dia ialah lelaku yang selalu jujur dan terbuka sejak pertama kalinya kita berkencan. Lelaki ini adalah pria yang sungguh-sungguh aku cintai. Ayah dari bayi yang belum lahir ini.

Kadang-kadang, ia mendapat telepon pada larut malam dari bos yang tinggal di luar negeri. Aku percaya padanya.

Ia mulai bersuka cita pergi dengan mobilnya tiap-tiap malam. Dikala saya memintanya untuk mengajakku bersamanya, ia menolak dan akan kembali beberapa jam kemudian.

Aku masih tak meragukannya

Pada satu hari, aku mengalami kram yang buruk di masa kehamilan bulan kedua. Aku harus naik taksi ke rumah sakit sendirian karena aku tak sukses menghubungi Adam.

Ia datang untuk menjengukku, melainkan walhasil ia malahan mengajakku jotos-jotosan seputar betapa aku telah menjadi muatan untuknya.

Bagaikan menyapu semua kotoran yang ada dan menyembunyikannya di bawah karpet, aku mau segala kekacauan ini kelihatan baik-baik saja. Aku mau memperhatikan pernikahan kami bagai gelas kaca yang indah sewarna mawar.

Ini bukan waktu yang pas untuk membahas kekurangan dalam pernikahan kami. Bagaimanapun, kami akan punya bayi.

Kami harus berupaya agar segalanya konsisten berjalan lancar dan bagus-bagus saja.

Kehidupan seks kami juga sudah terhenti. Dia berulang kali mengatakan kepadaku bahwa ia lelah dan terlalu stres sebab profesi.

Dikala itu aku sedang berada di awal kehamilan dan yang aku baca, seks ketika hamil muda masih aman. Sebagai ibu baru, saya juga konsultasi ke dokter kandungan juga, dia memberikan lampu hijau soal ini.

Aku sudah berinisiatif untuk melakukan kekerabatan seks dengannya beberapa kali, tetapi dia senantiasa menolak keinginanku.

Alasan nya merupakan "Saya tak ingin menyakiti bayi. Kok kamu bisa sih jadi terstimulus pada saat seperti ini?"

Hal ini terjadi beberapa kali selama trimester pertamaku. Ditolak berulang kali akan membikin kita menerima ilustrasi perihal apa yang terjadi.

Saya jadi sungguh-sungguh minder dengan perubahan tubuhku. Tetapi, bukankah itu adalah bagian dari kehamilan?

Saya merasa terluka, tak diharapkan, dan tak dicintai

Kemudian hari itu datang juga, saya sedang hamil 6 bulan. Teman perempuanku ketika itu mengirim SMS bahwa ada hal mendesak yang semestinya ia tanyakan padaku.

Dia mengirimiku tautan Facebook dan bertanya apakah pria dalam gambar itu Adam. Dengan perut melilit, saya mengklik tautan tersebut.

Di sana, terlihat gambar Adam di sebuah album Facebook sebuah klub malam terkenal di Singapura. Dia sedang mengecup perempuan lain, di bibir!

Adam, suamiku tukang selingkuh? Saya belum pernah mengamati sisi tersebut. Aku melihat foto itu dengan lebih teliti. Wanita itu menawan, mempesona, dan betul-betul menarik.

Meskipun, aku di sini... Sedang membulat bagai bola sebab hamil. Aku benar-benar menikmati bahwa kepercayaan diriku menghilang tak bersisa dari tubuhku.

Pertanda-tandanya memang ada, melainkan aku tidak pernah berdaya upaya bahwa dia berselingkuh dariku. Terutama pada ketika kita baru saja memulai sebuah keluarga.

Selama ini saya hanya berpikir bahwa ia sedang super sibuk dan sedang bergumul dengan pekerjaannya yang menumpuk.

Apa yang harus saya lakukan? Haruskah aku meninggalkan dia? Bagaimana caranya aku membesarkan buah hati ini sendirian? Apa yang orang lain pikirkan nantinya? Segala pertanyaan mulai berhamburan dari pikiranku.

Rasanya ruangan di sekitarku berputar. Nafasku rasanya terhenti. Aku runtuh di lantai dan mulai berdarah. Ketika terbangun, aku sedang berada di sebuah ranjang Rumah Sakit KK.

Di bawah terangnya lampu bangsal rumah sakit dan di tengah-tengah rasa pusing yang menderaku, saya memperhatikan bahwa Adam ada di sana. Ia mendatangiku, dan mencari tahu apa yang menyebabkan ini semua terjadi, apa yang sedang terjadi di rumah.

Saya benar-benar sirna nalar. Saya tunjukkan sebuah foto dari ponselku dan meminta penjelasannya.

Wajahnya langsung muram. Dia tak mengelak. Ia mengakui bahwa dia memang berselingkuh.

Dia membeberkan bahwa perselingkuhannya telah berjalan selama satu tahun. Nama perempuan itu Kelly, seorang teladan asal Thailand.

Mereka bertemu di sebuah klub dan ia tidak mengira bahwa keramahtamahan awam akan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan membahayakan.

Dia menyalahkan aku sebab tak menjadi wanita yang sama setelah kami menikah. Temperamenku mudah berubah dan sikapku juga "tidak menyenangkan" padanya sehingga ia mempertimbangkan untuk pergi.

Terbukti aku membuatnya merasa terkekang, malahan dari sebelum masa kehamilan.

"Saya ini sedang hamil! Apa yang kamu harapkan dariku? Tidak mempunyai perubahan suasana hati? Bersikap bagus sepanjang waktu?" tanyaku dengan sangat frustasi.

Saya merasa sedang berhadapan dengan seorang si kecil-buah hati. Betapa tidak dewasanya dia.

Apakah dia berpikir bahwa hidup yang kita jalani akan sama setelah kedatangan bayi? Makin terang bahwa ia tidak siap menjalani kehidupan sebagai orang tua.

Dengan gampangnya dia mengambil jalan yang mudah dan mengejar perempuan lain sebagai solusi atas permasalahannya. Tidak ada satupun pikirannya yang masuk logika bagiku.

Ia mengatakan bagaimana ia mulai jatuh cinta padanya. Karena ia 'tidak rumit' dan 'benar-benar menarik' sehingga ia tak bisa membatasi dirinya sendiri.

Dia juga menyadari bahwa ternyata dia tidak siap untuk menjadi seorang ayah.

Responku padanya ketika itu, "Kau tak siap untuk menjadi seorang lelaki."

Aku tak berkeinginan tahu terperinci bagaimana "relasi" mereka. Saya saya pedulikan berikutnya merupakan apa yang wajib aku lakukan selanjutnya.

Aku tak pernah berencana untuk membesarkan buah hati ini sendirian. Segalanya tiba-tiba berubah dalam hitungan menit.

Apakah aku punya rencana cadangan? Tentu saja tidak. Calon ibu tipe apa yang akan berdaya upaya bahwa ia wajib menyambut bayinya sendirian tanpa suaminya?

Aku punya banyak pertanyaan...

Apakah aku kapabel secara finansial untuk membiayai anakku? Beruntung tinggal di mana kami? Apakah aku mesti melahirkan bayi ini sendirian?

Siapa yang akan membantu persalinanku? Apa yang akan orang katakan pada anakku sebab dia "tak punya ayah"? Bagaimana caranya saya menguatkan diri secara emosi untuk menghadapi ini?

Semua, mengapa sih dia semestinya berubah menjadi brengsek seperti itu dan menghancurkan segala yang telah kami bangun?

Segala mimpi perihal gambaran mengasuh anak, mendaftarkan bayi untuk ikut kelas berenang, belanja keperluan bayi...

Menentukan ia menjanjikan sesuatu dikala ia justru mau mengakhirinya?

Saya untuk bercerai

Pada malam yang sama, sesudah saya keluar dari rumah sakit (untunglah pendarahanku tak serius), aku segera pindah ke rumah orang tuaku. Saya mengatakan pada mereka bahwa saya memerlukan seseorang untuk merawatku karena Adam tak tahu cara merawat seseorang agar bugar kembali.

Saya seharusnya jadi kuat demi bayiku. Aku tak mengatakan pada orang tuaku bahwa pernikahanku selesai. Aku pikir mereka tidak akan dapat menuntaskan stres yang ditimbulkan karena ini.

Adikku mengemas barang-barangku dan membawanya untukku. Saya mengatakan padanya segalanya. Dia bertanya apakah aku benar-benar menginginkan perceraian.

Dia mengatakan padaku bahwa tidak akan menyenangkan bagi seorang buah hati untuk tumbuh tanpa ayahnya. Aku juga patut siap menghadapi apa kata orang terhadap bayi lelakiku ini. Dia juga bertanya apakah aku cukup kuat untuk ini segala.

Tentu saja saya berkeinginan yang terbaik untuk anakku, aku tidak berharap ia tumbuh tanpa seorang ayah. Melainkan rasa sakit yang dimunculkan kalau aku wajib serumah dengan seseorang yang berselingkuh sudah berada di luar kemampuanku untuk mengatasinya.

Aku tak akan pernah dapat memandang Adam dengan cara yang sama lagi. Saya harus membikin keputusan yang tepat bagi kami semua..

Aku menetapkan untuk bercerai dari Adam dan ini membuatnya murka. Ia mulai melecehkan saya dan mengirimiku pesan teks berupa ancaman.

Aku mencoba untuk melalaikan pesannya, tetapi seharusnya aku akui bahwa itu tidaklah mudah. Aku menangis sampai tertidur setiap hari. Aku juga khawatir bahwa ini seluruh akan berakibat kepada bayiku.

Orang tuaku tidak pernah tahu alasan sebenarnya kenapa kami bercerai. Mereka juga tidak pernah menyelidikinya secara mendalam.

Aku dari ayahku adalah:

Anakmu membutuhkanmu, sayangku. Jangan meratapi masa lalu. Itu akan membuatmu makin sedih.

Aku tahu bahwa keputusan ini berat, tidak peduli apa saja alasanmu untuk meninggalkan Adam. Tapi kau semestinya mengutamakan hal yang terbaik untuk bayi ini.

Adam ialah seseorang di masa lalumu, ia mungkin bukanlah masa depanmu. Anakmulah masa depanmu.

Anakku Greg sekarang berusia 1,5 tahun dan yaitu komponen dari kebahagiaan yang ada di rumah kami. Ia ialah buah hati yang ceria dan dihujani oleh banyak cinta.

Saya tak tahu bagaimana masa depan akan membawa kami, tapi saya tahu bahwa aku melaksanakan banyak hal yang lebih bagus sekarang. Memilikinya di sisiku yaitu hadiah terbaik dari dunia untukku.

Saat ada saja masa sulit, aku amat tertekan dikala itu. Saat baru saja melahirkan dan menjalani peran sebagai ibu baru.

Melainkan memiliki keluarga yang menyokong dan mencintaiku, ditambah dengan teman-sahabat yang luar awam sudah membawa banyak perbedaan untukku. Karena itulah, aku amat sungguh-sungguh bersyukur.

Menjadi seorang calon ayah bukanlah sebuah pembetulan atas perilaku buruk hanya sebab istrinya hamil dan "jadi tak sama lagi". Mereka harus menyadari bahwa perempuan mengalami perubahan jasmani dan emosial selama kehamilan.

butuh sedikit pengertian di antara keduanya supaya bisa menjalani pernikahan yang awet. Semoga Norah dan anaknya, Greg, bisa menjalani ini seluruh dengan penuh ketegaran dan kebahagiaan.